19 7 / 2012

Kalau ada manusia yang hidupnya selalu happy, asli gua mau ketemu banget. Kenapa? Karena udah engga mungkin Tuhan memberikan hidup yang smooth-smooth aja buat kita, tapi emang tergantung dari sisi mana kita mau melihat kejadian apapun yang terjadi pada kita.

Recently sih masalah yang mengganggu gua banget adalah patah hati. Ya emang yang namanya cinta itu bisa menguatkan, tapi sekalinya semua hal berjalan dengan tidak baik, cinta bisa menjadi hal yang sangat melemahkan. Sedap ngga tuh omongan gua?

Buat orang-orang disekitar yang kenal gua in person pasti ngeliatnya gua fine-fine aja. Padahal hamper setahun gua lebay seada-adanya gara-gara patah hati. Liat aja isi tumblr gua, buset, cerita patah hati semua tuh isinya.

Dari mulai engga bisa tidur setiap malam, males makan sampai berat gua menurun dengan drastis, nangis sendirian pas nyetir sendirian di mobil, teriak-teriakan mengutuk Tuhan, sampai mau nabrakin diri ke truk. Semuanya gua alamin deh tuh. Lebay gila engga kelakuan gua?

Satu hal yang gua sadari adalah gua engga bisa Cuma nangis dan meratapi nasib terus menerus. Setiap hari gua bangun dan bilang sama diri gua sendiri “Hari ini harus berbeda, hari ini gua harus lebih stabil dan lebih baik.” Gua ngomong kaya gini sama diri gua sendiri sampai hampir setahun di mana akhirnya gua insyaAllah mulai mencari titik keseimbangan yang baru.

Apa sih yang bikin orang lebay banget saat patah hati? Simple, karena kita menolak realita. Itulah yang gua lakukan dulu. Gua menolak realita, gua menolak maksud baik orang lain yang mau membantu kita. Gua ngerasa Cuma orang tersebut yang bisa membuat gua happy lagi. Padahal logically speaking, orang tersebut juga yang bikin gua jatuh seada-adanya.

Pada akhirnya, gua sadar, yang sejati adalah DIA yang engga pernah  pergi.

Gua sadar dengan gua terus-terusan being miserable dan unhappy, engga bikin kenyataan berubah. Dengan gua menenggelamkan diri gua dalam pekerjaan engga bikin diri gua merasa complete. Dengan gua ketus dan menolak bantuan dari lingkungan sekitar juga engga bikin orang tersebut kembali.

So, emang harus guanya yang engga pernah nyerah sama gua. Harus gua yang pulling myself out of the darkness. Harus gua yang belajar ikhlas. Terlebih lagi harus gua juga yang memutuskan hidup gua mau dibuat seperti apa, dan being unhappy terus menerus engga membuat masa depan gua lebih clear. Jadi gualah yang harus memutuskan apa yang sebaiknya gua lakukan dengan realita gua yang sudah berubah ini.

Faktnya, saat kita patah hati, kita engga akan mau dengerin omongan siapapun. Kita akan ngerasa kita orang yang paling sakit sedunia, tapi.. inget, engga akan ada satu orangpun yang datang ke dalam hidup kita dan menyelesaikan semua masalah kita, kehadiran orang yang kita cinta memang akan membantu, tapi engga jarang juga punya pasangan justru menambah masalah, untungnya ya dihadapi berdua aja. So yeah, jangan pernah lelah menghadapi diri sendiri.

Up until today gua masih sangat terpengaruh sama negativity (kadang), tapi gua memutuskan untuk tidak fokus dengan apa yang ada dibelakang dan terus hidup dalam ilusi gua. Gua memutuskan untuk bangun dan menciptakan realita yang lebih friendly so I can be happy like I used to :)